Archive for July 2nd, 2006

02
Jul

percaya pada kepercayaan…

Jika kau bertanya sejauh mana cinta membuat bahagia… Saling mengisi ,..tanpa pernah mengekang diri.. Jadikan percaya yang utama… (Cinta Putih-Katon) Lagi-lagi percaya yang utama.. dan lagi-lagi percaya yang utama… Dan percayakah anda bahwa kepercayaan itu sendiri pada dasarnya tak bisa dipercaya.. Sebab terkadang iman sekalipun mampu menyesatkan..karena terkadang iman hanyalah proses penumpulan daya kritis manusia yang notabene anugrah sang pencipta… Percaya adalah bagian dari keimanan .orang yang percaya terkadang dipercaya sebagai orang yang beriman. Dan orang yang beriman tentu dipercaya orang yang percaya. Percaya adalah sama dengan keyakinan dan ketundukan pada suatu bentuk yang bisa bersifat manifestatif dan bisa pula keyakinan pada bentuk imanensial. Contohnya gini.. sebagaian mungkin percaya bahwa sesuatu itu bisa kita yakini sebagai bentuk yang”sudah seharusnya” dipercaya misalnya.. konsep tentang Tuhan. Sebagain orang beranggapan bahwa Tuhan yang maha Agung itu itu bisa dilihat.. digambar.. dilukis.atau diberikan sebuah kiasan yang dapat mendeskripsikan. Dan tentu saja sebagaian orang tersebut percaya bahwa konsep ketuhanan yang bisa dipercaya adalah yang bisa di manifestasikan. Ini tentu saja mengandung sebentuk paradoks yang saling berhadapan.. karena iman pada dasarnya bersifat imanensial.. namun pada sisi paling esensial justru kekaburan konsep terjadi bahwa Tuhan bisa merupakan mewujud. Ejowantah-meng-ejowantah pada sebentuk yang bersifat manifestatif. Tuhan.. percayalah bahwa, Engkau jelas merupakan yang maha berbeda dan tidak tersamakan dengan bentuk2 pengandaian dalam agama atau sekalipun bentuk kepercayaan apapun.. Tulisan ini mungkin sebentuk kritik atas kepercayaan dimana Keimanan. Hanya merupakan bentuk kepercayaan manifestatif. Jadi kita percaya kalau sesuatu itu benar. Jika itu benar2 ada dan nyata. Tapi pernah kah terpikir bahwa adanya kita sendiri berasal dari ketiadaan (Dunia Sophie-Jostein Gaardner) Jadi. Mana mungkin kebenaran didefinisikan secara sangat sederhana bila cakrawala keberadaan-existence scope kita hanya pada kebenaran yang ”nyata” Ada banyak sekali pengandaian yang justru di berikan oleh Sang Tiada (alias Tuhan) misalnya Fatamorgana. Percayakah bahwa orang-orang yang begitu kerongkongan haus itu nyatanya memang merasa pendaran cahaya nun disana adalah sekolam air. Padahal begitu didekati justru makin tidak nampak ada dan makin membuat kerongkongan kita kehausan. Jangan-jangan kebenaran merupakan skenario multi skenario. Dimana ketika kita merasa sudah benar.. dan ”nyaman” dengan kebenaran itu sendiri .. pada saat bersamaan kita sendiri tidak ada dalam kolam kebenaran yang kita anggap benar itu. Misalnya. Ketika kita memperjuangkan suatu keyakinan dengan menafikan keyakinan lain yang juga sama eksist dan malah berupaya menjadi oponen atas eksistensi itu.. maka bukan tidak mungkin kita mengalami defisit kebenaran. Karena kebenaran yang sejai-nya justru seharusnya merupakan sebuah alat bantu paling universal memahami.. uversalitas. Jadi percayalah bahwa kita seharusnya percaya bahwa kepercayaan yang kita anut, yakini.. harus merupakan sebuah kebenaran yang dialogis.. berkembang.. tahan cuaca.. dan tidak anti kritik.. karena yakinlah.. kebenaran yang sempurna adalah kebenaran yang seharusnya idak anti kritik.. sangat bisa dikritik, sangat bisa di dan di berikan keleluasan untuk saling menjawab. Taruhannya tentu… Kepercayaan anda.. percaya??